MENGUNGKAP RAHASIA KEHEBATAN OTAK MANUSIA BAG. 2

3 March 2015

MENGUNGKAP RAHASIA KEHEBATAN OTAK MANUSIA (Oleh Ir. Ferry Darsana)

BAGIAN 1: BELAJAR DARI KEJENIUSAN EINSTEIN

 

bimbel persiapan un snmptn sbmptn bandung terbaik keren bagus favorit sd smp sma murah lulus ptn einstein math matematika guru cerdas genious jenius

Banyak ilmuwan yang menyatakan bahwa misteri terbesar di alam semesta adalah otak manusia. Menariknya, salah satu ilmuwan yang berpendapat seperti itu adalah Dr Eric Kandel — penerima Nobel bidang kedokteran dan obat-obatan pada tahun 2000 atas risetnya mengenai cara kerja otak manusia untuk pembentukan memori dan proses belajar (memory and learning). Beliau adalah Profesor Ahli Saraf yang bekerja di Colombia University dan Howard Hughes Institute. Menurut logika umum, Dr Eric Kandel pasti adalah orang yang paling memahami bagaimana cara otak manusia bekerja, tetapi uniknya beliau menyatakan otak adalah misteri terbesar di alam semesta.

 
Otak manusia beratnya hanya sekitar 1,5 kg atau kisaran 2% – 2,5% dari berat tubuh manusia, tetapi menyerap 20% hingga 80% energi yang dihasilkan pembakaran tubuh. Otak manusia tersusun dari sel-sel otak yang berukuran sangat kecil disebut neuron. Sebagian neuron di dalam otak manusia bertugas untuk menjaga dan mengendalikan aktivitas organ tubuh, sebagian lainnya berperan di dalam pembentukan emosi, dan sisanya menjalankan fungsi luhur otak, yaitu berpikir logis-analisis-sintesis. Neuron sendiri tidak hanya terdapat di dalam otak, melainkan di seluruh organ tubuh dalam wujud sel saraf.

 
Selain neuron, di dalam otak terdapat beberapa jenis sel yang bertugas memelihara neuron, disebut sel glia atau neuroglia. Sel glia ada yang berfungsi melindungi neuron dan ada pula yang berfungsi untuk menunjang kinerja neuron, di antaranya dengan membantu pasokan makanan bagi neuron apabila dibutuhkan.
Rata-rata otak manusia memiliki neuron dalam jumlah sangat besar, mencapai 100 milyar buah. Masing-masing neuron terhubung dengan banyak neuron lainnya. Dalam kondisi terbaiknya, sebuah neuron dapat membentuk koneksi dengan ribuan buah neuron lain. Hubungan antar neuron yang terbentuk di dalam otak manusia hingga triliunan koneksi. Jumlah koneksi antar neuron ini yang kelak menjadi pembeda utama tingkat kecerdasan seseorang karena sesungguhnya jumlah neuron yang dimiliki oleh setiap manusia relatif sama.

 

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
QS At-Tin ayat 5

 

Di dalam QS At-Tin ayat 5, Allah SWT menandaskan bahwa manusia telah diciptakan dalam bentuk sebaik-baiknya. Dengan 100 milyar neuron yang dimilikinya, otak manusia adalah maha karya sempurna dari Sang Khalik dengan potensi kemampuan hampir tidak terbatas. Rahasia untuk menggali potensi kehebatannya adalah dengan membentuk hubungan antar neuron sebanyak-banyaknya. Semakin banyak hubungan antar neuron yang terbentuk di dalam otak kita, semakin dahsyat kecerdasan yang kita punyai.

 

Albert Einstein yang kerap ditahbiskan sebagai manusia paling jenius yang pernah hidup, otaknya diambil dan kemudian diawetkan hanya 7,5 jam setelah kematiannya. Saat wafat pada tahun 1955 dalam usia 76 tahun, dokter yang mengautopsinya Thomas Stoltz Harvey, sengaja menyimpan organ otaknya. Sang dokter mengiris-iris otak Einstein, kemudian menyelidikinya di bawah mikroskop. Ia juga memotretnya dari berbagai sudut pandang.

 

Sayangnya sebagian besar foto-foto tersebut telah hilang, dan hanya bersisa 14 buah.
Hingga kini telah banyak ilmuwan memeriksa dan menganalisis organ yang berada di dalam kepala salah satu pemikir terbesar dari era modern ini. Setelah diteliti, ternyata massa otak Einstein bisa dikatakan sama saja dengan massa otak kebanyakan orang, bahkan dikategorikan memiliki massa otak relatif ringan dibanding yang lainnya. Padahal awalnya, diduga kejeniusan Einstein karena memiliki ukuran massa otak yang lebih besar.

 

Pada tahun 1985, studi yang dilakukan Diamond et al menemukan fakta yang mengejutkan bahwa otak Einstein ternyata memiliki jumlah neuron relatif sedikit dibanding otak 11 orang pembanding yang meninggal pada usia yang sama. Namun, studi tersebut juga mengklaim bahwa otak Einstein mempunyai lebih banyak sel glia dalam jumlah yang signifikan. Jumlah sel glia yang banyak menunjukkan bahwa sel-sel neuron di dalam otak Einstein bekerja lebih keras dibanding kebanyakan orang. Einstein telah mengoptimalkan potensi otaknya jauh lebih baik dibanding orang lain.

jacob albert einstein matematika math cerdas ilmu privat belajar ajar didik bandung

Foto yang dipublikasikan pada tanggal 16 November 2012 di jurnal Brain, mengungkap fakta baru mengenai otak Einstein. Penelitian ini dilakukan oleh seorang antropologis bernama Dean Falk dari Florida State University. Dalam penelitiannya, Falk menemukan bahwa bentuk asimetris dan ukuran otak Einstein sama saja seperti otak manusia lainnya, namun otak Einstein memiliki lipatan yang jauh lebih banyak dan lebih kompleks di bagian serebral korteks. Serebral korteks ini berupa wilayah abu-abu di bagian paling luar otak manusia yang berlipat-lipat bentuknya. Pada serebral korteks terdapat prefrontal, somatosensory, primary motor, parietal, temporal dan occipital cortices. Serebral korteks adalah bagian otak paling istimewa karena merupakan pembeda utama otak manusia dengan otak hewan. Serebral korteks menjalankan fungsi luhur otak, yaitu berpikir logis-analisis-sintesis.
“Ini adalah bagian paling istimewa, canggih dalam otak manusia, kata Dean Falk, menyinggung soal wilayah abu-abu itu. “Dan milik Einstein sangat luar biasa.”

 

Falk mengatakan bahwa semakin banyak lipatan, semakin banyak area ekstra untuk proses mental, yang memungkinkan lebih banyak koneksi antar sel otak. Dengan semakin banyaknya koneksi antar bagian yang saling berjauhan di dalam otak, seseorang akan mampu membuat “lompatan mental”, menggunakan sel-sel otak yang jauh untuk menyelesaikan persoalan kognitif. Dalam bahasa sederhana, semakin tebal materi abu-abu, semakin tinggi IQ seseorang.

 
Menilik fakta jumlah sel glia Einstein yang sangat banyak, penulis meyakini lipatan otak yang kompleks ini bukan anugerah yang diperoleh sejak lahir, melainkan hasil kerja keras neuron-neuron di dalam otak Einstein membentuk koneksi antar neuron. Koneksi antar neuron yang luar biasa banyak inilah yang menjadi rahasia kecerdasan Einstein yang dahsyat. Dia senantiasa menggunakan setiap waktu yang dimilikinya untuk memikirkan fenomena alam dengan gayanya sendiri.

 

Menjelang akhir hayatnya, Princeton University tempat Einstein mengajar, menyediakan pesawat telpon di berbagai sudut kampus untuk Sang Jenius ini. Didapati fakta bahwa Einstein sering berjalan-jalan keliling kampus dalam kondisi ‘setengah sadar’. Einstein berjalan-jalan di lingkungan kampus sambil fikirannya jauh mengembara memikirkan berbagai fenomena fisika di alam semesta. Ketika dia terbangun dari pengembaraan fikirannya, dan kembali ke dunia nyata, Einstein sering kebingungan di mana dia berada dan bagaimana caranya kembali ke ruang kerjanya. Telpon disediakan di berbagai sudut kampus agar Einstein dapat segera mencari pertolongan.

 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

QS Ali Imran 190 – 191